Kamis, Januari 19, 2017

Boleh Saya Tilang, Mbak?

Siapa bilang penggunaan bahasa berpola yang kami terapkan di sekolah hanya untuk interaksi antara guru murid atau orang tua anak saja. Tidak seterbatas itu. Penerapannya justru bisa kepada siapa saja. Kalau anda baca postingan saya kemarin, ada percakapan antara Damar dengan penjaga toko roti.

Nah, hari ini saya mendapatkan kisah berbeda lagi. Kisah tentang salah satu guru Buana Kids yang ketika melaju sepeda motornya dihentikan petugas operasi lalu lintas. Kawan saya yang sudah terbiasa dengan pola bahasa santun tampak tenang menghadapi polisi. Bagaimana kelembutan bahasanya yang mampu melunakredamkan emosi. Kekuatan bahasa berpola dengan penyampaian yang santun, ternyata berdampak pada seorang polisi yang mendadak minta ijin untuk menilang.

“Maaf pak, saya tidak membawa STNK,” kata Bu Uci dengan lembut
 
“STNK-nya dimana?” tanya polisi.

“STNK sedang di bawa kakak di Jakarta untuk mengurus mutasi.”

“Mbak harusnya bawa surat keterangan.”

“Oh, begitu ya pak. Maaf, saya tidak tahu informasi itu.”

“Boleh saya tilang, mbak?”

Dalam hati teman saya merasa terkejut, “Eh, pak polisi malah  minta izin. Santun benar Pak Polisi ini.”  Ia malah jadi tidak enak hati.

Akhirnya kawan saya pun tetap dapat surat tilang, yang akan diselesaikan melalui jalur pengadilan.

“Oh, iya, pak. Nanti kalau ke pengadilan apa yang harus saya bawa dan saya siapkan?” tanya kawan saya polos.

“Tidak perlu bawa apa-apa, cukup bawa surat tilang ini saja.”

“Maksud saya berapa uang yang harus saya siapkan?” Pak Polisi pun menyebutkan kisaran angka. Kawan saya mengucapkan terimakasih.  
***
Bisa kita lihat, bagaimana proses penilangan berlangsung dengan adem, saling menerima, saling memahami dan mengerti dengan peran masing-masing. Sementara kebanyakan, ketika ada operasi lalu lintas, yang merasa bersalah lebih memilih menghindar agar tidak ditilang. Kalau pun terpaksa sudah distop juga berusaha mengelak, melakukan pembelaan. Belum lagi dengan ekspresi kebanyakan petugas yang menampakkan wajah beringas. Bahkan tak jarang suasana menjadi semakin memanas. Polisi ngotot untuk menindak pelanggar, yang melanggar juga tidak kalah ngotot melakukan adu argument yang intinya agar tidak jadi ditilang.

Selama ini, kesantunan di jalan seolah telah hilang. Bahkan pada kesempatan yang sama tepat di samping kawan saya itu ada juga sepeda motor yang diberhentikan oleh polwan. Pengendara sepeda motor itu bapak-bapak paruh baya, hanya mengenakan kaos dan celana pendek, tanpa helm, termasuk surat-surat. Belum ditanya, si bapak langsung membela diri

“Saya baru dari rumah sakit. Baru periksa. Tidak bawa apa-apa.”

“Tetap kami tilang, pak,” ucap Polwan itu tegas. Tanpa senyum. ekskpresinya jauh dari kesan ramah.

Dari kisah ini saya banyak belajar, betapa sikap santun tetap diperlukan dimanapun, tidak terkecuali di jalanan.

 


Rabu, Januari 18, 2017

BAHASA YANG TIDAK BIASA


Sejak bergabung di SEMAI, saya begitu banyak menemukan kisah menakjubkan terkait penggunaan bahasa. Kebetulan kantor SEMAI, satu atap dengan Buana Kids dan SD Al Biruni. Ada banyak kosakata tidak biasa yang banyak menyimpan decak kagum bagi siapapun yang mendengarnya. Karena kalimat-kalimat tidak biasa itu diucapkan dari lisan seorang anak kecil.

Kosakata yang mereka bahasakan terdengar memang seperti kata-kata level tinggi. Bagaimana anak kecil mengucapkan kata ‘bergerak’ yang maknanya menyebutkan temannya membantu melakukan. “Hafiz belum bergerak merapikan mainan,” itu salah satu contoh.

Contoh lain adalah kalimat yang diucapkan Zafira. “Aku tidak bertanggung jawab, atas nasi yang tidak aku ambil sendiri” Kalimat itu diucapkan ketika porsi nasi yang diambil oleh ibunya terlalu banyak melebihi kapasitas yang biasa dimakan Zafira.    

“Bunda, posisi mejanya belum akurat!” kalimat yang terucap untuk merapikan posisi meja seperti barisan meja-meja yang lain.

“Sepertinya Azam perlu bersabar” ini terujar ketika mengingatkan teman yang ingin segera mendahului menyenduk nasi. Saat itu temannya yang semestinya mendapat giliran sedang berada di kamar kecil. Jadilah tempat nasi itu tidak bergerak, dan teman-temannya bersabar menunggu.

“Ada yang perlu bertanggung jawab,” ini adalah cara mengingatkan temannya yang belum menuntaskan pekerjaan.Misalnya menumpahkan air yang seharusnya segera dipel tapi tidak juga dilakukan.

Dan kisah terbaru yang aku dapatkan adalah dari salah satu orang tua murid Buana Kids. Beginilah kisah selengkapnya….

Damar kemarin pergi ke sebuah toko roti. Damar mengambil satu bungkus roti dan membayarnya ke kasir. Di dekat pintu keluar Damar ditawari oleh penjaga toko.

"Dik, kuenya kok cuma satu? Puddingnya tidak? Ada macam-macam rasanya lho, yang cokelat enak banget, ada coklat aslinya". Dan tahukah teman-teman, jawaban Damar membuat penjaga toko tidak berkutik.

"Aku butuhnya hanya kue, satu sudah cukup, dan aku tidak mau pudding. Aku tidak suka makanan yang teksturnya kenyal."

Saya sendiri tidak bisa bayangkan bagaimana perasaan si penjaga toko roti itu ketika menawarkan roti yang lain tapi ditolak dengan sangat halus oleh anak usia 5 tahun.

PELATIHAN 5 KONTINUM BERBAHASA

Siti Sundari - Pakar Bahasa Cinta
Kekeliruan terbesar orang tua dalam mendidik anak adalah tidak sadar jika dirinya melakukan kesalahan. Fatalnya mereka baru memberikan reaksi ketika anak mulai bermasalah, dan reaksi paling parah adalah baru bergerak saat masalah sudah terlampau parah.

Satu contoh kesalahan yang sering tidak disadari adalah ketika anak tidak sesuai dengan kemauan, banyak orang tua yang bereaksi dengan memarahi, melarang, atau menyuruh. Kesalahan berikutnya tidak jarang ketika berkomunikasi langsung potong kompas dengan intervensi fisik. Padahal itu adalah fase paling rendah dalam tahapan berbahasa. Lantas, apa fase paling tinggi dalam tahapan berbahasa?

Semua jawaban itu bisa anda dapatkan dalam kelas parenting SEMAI yang hadir dengan sentuhan tema baru; “5 Kontinum Berbahasa”

PELATIHAN 7 JAM INI AKAN MEMBAHAS 3 KUNCI PENTING BAHASA PARENTING:
• Teknik berbahasa sesuai dengan tahapan
• Strategi Berbahasa tanpa marah, tanpa melarang, tanpa menyuruh
• Rahasia kedahsyatan Bahasa Berpola

PELATIHAN INI AKAN DISELENGGARAKAN PADA
Hari/ Tanggal : Sabtu, 21 Januari 2017
Waktu : Pukul 08.00 – 15.00 WIB
Tempat : Di Semai Meeting Room (Buana Kids Building 2nd Floor)
Jl. Raya Mejasem – Pacul No 59-61 Kec. Talang – Kab.Tegal

TRAINER
Siti Sundari (Pakar Bahasa Cinta)

CO- TRAINER
 Ali Irfan (Penulis)

FASILITAS
• Ilmu praktis yang applicable
• Coffee Break 2x
• Lunch
• Observasi Penggunaan Bahasa
• Gratis konsultasi dengan trainer selama 1 bulan.

INVESTASI PELATIHAN 200ribu

Pendaftaran melalui transfer rekening BSM (Bank Syariah Mandiri) 7013441671 atas nama Ali Irfan

Pendaftaran anda ke ke 0858 7957 1653 (Sulis)
  KATA PESERTA YANG PERNAH IKUT PELATIHAN SEMAI

“Rasa penasaran yang saya selama ini saya pendam akhirnya terjawab. Ilmu mudah, bisa dipraktekkan, hanya saja jarang digunakan. Penggunaan bahasa yang saya dapatkan dalam SEMAI Parenting ini akan saya coba tularkan di teman-teman guru di sekolah.”

Sasmi Pamiluwati, Guru SDIT Al Azkar – Pamulang, Tangerang Selatan.

“Dosa-dosa yang sering saya lakukan dalam mendidik anak jadi lebih terbuka setelah ikut Parenting SEMAI. Mudah-mudahan penggunaan bahasa yang diajarkan dalam pelatihan ini bisa dipraktekkan sebagai penebus kesalahan yang selama ini saya perbuat.

Alfia Kurnia – Karyawan Bank Muamalat Cabang Tegal

“Penggunaan Bahasa yang diterapkan dalam pelatihan ini membuat anak jadi kelihatan manusianya. Empati anak tumbuh dengan kesadaran.

Ubaidillah Naufal Hanif – Guru Tahfidz di SMP IT Al Azkar

Pelatihan ini pas sekali dengan karakter orang Indonesia yang inginnya praktis dan cenderung cari jalan pintas dalam mendidik anak. Biar banyak orang sadar kalau sebenarnya tidak ada jalan pintas dalam mendidik anak. Ilmunya sederhana, tapi cukup mengena.

Hibatullah Hauzan Hanif, Bimbel Rumah Pintar, Jakarta Timur 

“Hari kedua saya mempraktekkan metode ini anak-anak jadi lebih santun. Saya juga lebih bisa mengkondisikan kelas yg notabene kelas anak-anak super. Subhanallah ternyata ilmu yg simpel dampaknya luar biasa, saya akan terus gunakan metode ini, terima kasih ilmunya.

Afianti Wulandari - Pekalongan

Senin, Januari 16, 2017

Membaca Rasa Sang Peniru Ulung

Riset kecil yang saya sebar di fesbuk, cukup menambah sekaligus menguatkan keyakinan bahwa mendidik anak tanpa memarahi, tanpa melarang, tanpa menyuruh merupakan sebuah keniscayaan skill yang harus dikuasai guru, apalagi orang tua. Lebih-lebih mereka yang berhadapan dengan anak usia dini.

Responden memberikan tanggapan beragam, tapi mengerucut pada satu hal. Mereka tidak menemukan kenyamanan jika memosisikan diri sebagai anak yang kerap dididik dengan cara dimarahi, dilarang, ataupun disuruh.

Rohmah Hamdani mengungkapkan ketidaknyamanannya, “Sebel, membatin, menggurutu, merasa digurui seperti tidak puna pikiran dan perasaan padahal sama-sama punya otak dan hati yang sama fungsi. Tidak punya pikiran dan perasaan, padahal sama-sama punya otak dan hati yang sama fungsi.”

Muhammad Taufik Hidayat juga merasakan perasaan yang hampir sama. “Sebel. Kalau disuruh malah tidak mau dikerjakan. Kalau dilarang malah penasaran. Rebel mind.”

Aslia Jalil lebih memilih membebaskan untuk melakukan apa yang anak-anak kehendaki asalkan untuk kebaikan dan tetap dalam pantauan sepengetahuannya. Ketika melihat ada indikasi melewati batas beri pengertian. Jika masih melanggar, baru menunjukkan sikap tegas.

Ajeng Rosa Hana Monica justru merasa sedih. “Sedih banget, bahkan bisa sampe nangis kalo saya, karena wanita itu rentan.
***

Tanpa perlu menunggu ratusan komentar, saya kira beberapa komentar di atas sudah cukup mewakili. Yang jelas, kita merasa tidak nyaman jika dimarahi, tidak enak kalau disuruh-suruh, kurang tenang jika dilarang-larang. Nah, kita yang sudah dewasa saja merasakan ketidaknyamanan, lalu bagaimana dengan perasaan anak-anak, yang belum tahu apa itu konsekuensi, yang belum paham apa itu aturan, karena dunianya masih dunia bermain. Karena semua itu masih dalam tahap dikenalkan.

Mendidik tanpa 3M memang kelihatannya sederhana. Tapi butuh perjuangan luar biasa saat menerapkannya ternyata. Sadar, sabar, dan belajar menjadi kunci untuk bisa menerapkan pola ini. Karena hanya orang-orang yang sadarlah yang mau bergerak. Sadar bahwa selama ini keliru. Kemudian mencoba berubah untuk memperbaiki. Sabar menjalani proses, karena pola 3M ini adalah warisan turun temurun pola lama dalam mendidik, yang sudah mengurat akar, sudah menjadi kebiasaan, bahkan dianggap sebagai sebuah kewajaran, sehingga tidak dianggap sebagai masalah. Dan yang terakhir adalah mau belajar hal-hal yang terlihat sederhana yang berdampak luar biasa ini. 

Saya sendiri merasa kerap bersalah karena masih belum sepenuhnya bisa menerapkan pola 3M ini. Masih terbawa pengaruh pola-pola lama. Tanpa sadar kadang masih dengan sangat mudah marah. Mudah sekali membentak, dan belakangan baru tahu kalau ketika Like dan adiknya bertikai memperebutkan mainan. Sering terdengar suara bentakan si kakak kepada adiknya, yang saya perhatikan dari gaya bentakannya itu mirip dengan gaya saya ketika membentaknya.

Atas kekeliruan ini, lalu saya peluk anak saya, meminta maaf sambil berucap sesuatu kepadanya, Maafkan ayah, Nak. Ayah masih belajar. Masih belajar menjadi ayah yang baik untuk kamu, Nak.”

Dari peristiwa itulah saya mulai memantapkan niat untuk menerapkan secara total menerapkan pola mendidik tanpa memarahi, tanpa melarang, tanpa menyuruh.

Senin, Januari 02, 2017

Dua Rahasia Berbahasa

Rahasia pertama adalah tentang penggunaan bahasa. Tepatnya Bahasa Indonesia. Coba ingat-ingat, berapa lama kita belajar Bahasa Indonesia? Kita hitung ya. Kita mulai dikenalkan pelajaran ini sejak kelas 1 SD. Pelajaran ini berlanjut sampai perguruan tinggi. Dengan asumsi kuliah 4 tahun, itu artinya kita  telah belajar Bahasa Indonesia selama 16 tahun!

Itu pun belum dihitung sejak TK yang menggunakan Bahasa Indonesia sebagai pengantar. Belum dihitung dari bahasa yang kita gunakan sehari-hari. Pertanyaannya selama 16 tahun ini apakah kita benar-benar menggunakan Bahasa Indonesia dalam berbahasa kita atau malah mengabaikannya?

Andai saja semua orang tahu, betapa dahsyatnya penggunaan bahasa berpola dalam komunikasi ini, saya yakin semua orang akan kembali membuka pelajaran Bahasa Indonesianya yang dulu telah dipelajari di sekolah. Jika semua orang paham betapa dahsyatnya jika bahasa ini diverbalkan, saya yakin orang-orang akan berusaha sekuat tenaga menerapkannya.

Ada begitu banyak dari kita yang telah mengabaikan bahasa sendiri. Barangkali yang benar-benar menerapkan bahasa berpola ini hanya wartawan atau penulis yang benar-benar sangat memperhatikan detail EYD. Tapi apakah hal yang sama juga diterapkan dalam berbahasa mereka sehari-hari, atau hanya ketika untuk menulis atau membuat berita?

Prinsip komunikasi itu “yang penting nyambung,” pesan tersampaikan. Mungkin ada yang berpendapat seperti itu. Sama! Saya pun demikian. Jadi sah-sah saja katakanlah saat sedang kumpul-kumpul kemudian kita menginginkan sesuatu, kita cukup bilang, “Eh, ambilkan itu!” dan hebatnya lagi kita mendapatkan apa yang kita mau. Ada orang yang bergerak yang mengambilkan apa yang kita inginkan. Tapi sekarang saya punya prinsip yang berbeda. Bukan pesannya yang penting sampai. Tapi yang sampai itu harusnya pesan yang penting.

Dalam pengamatan kami penggunaan bahasa yang terstruktur akan membuat susunan saraf otak jadi lebih rapi dan terstruktur. Strukturnya syaraf otak akan berimbas pada perilaku yang juga lebih tertib. Anak menjadi lebih fokus, lebih santun, dan lebih kelihatan manusianya. Dan ini sangat baik untuk perkembangan anak terutama anak usia dini, saat diterapkan dalam pola pengasuhan.

Bagaimana anak bisa bergerak tanpa diperintah, tahu batasan, mengerti peraturan, memiliki empati, lebih santun, bisa mengkritisi segala sesuatu dengan cara penyampaian yang bisa diterima lawan bicara, bisa memberikan informasi dengan runut dan lebih jelas. Sangat kontras sekali dengan bahasa orang kebanyakan, bukan hanya karena tidak berpola, tapi juga kerap kadang terdengar kurang santun, karena masih banyak bahasa yang diucapkan masih menerapkan pola memarahi, melarang, apalagi menyuruh.

Dampak penggunaan Bahasa Indonesia ini hanya akan anda rasakan manfaatnya jika menerapkan rambu-rambu tanpa 3M. Dan ini menjadi rahasia kedua. Bahasa yang tanpa memarahi, tanpa melarang, tanpa menyuruh. Inilah yang membuat saya tak mampu mengucapkan sepatah katapun saat diminta masuk kelas untuk mengajar anak-anak SD Al Biruni.

Saya yang sudah 6 tahun menjadi guru, ternyata dibuat tak berkutik dengan rambu-rambu ini. Dulu saya mudah saja menyuruh anak-anak untuk duduk tenang. Melarang atau memarahi jika anak-anak tidak sesuai dengan yang saya inginkan.  Tapi saat itu saya benar-benar dibuat tak bisa berbuat apa-apa. Bagi saya menggunakan Bahasa Indonesia yang terstruktur tidak masalah, karena saya juga penulis. Tapi rambu-rambu tanpa 3M itu yang membuat saya benar-benar kehilangan kata-kata.

Saya bingung bagaimana harus mengendalikan anak-anak tanpa memarahi, tanpa melarang, tanpa menyuruh. Hampir saja yang berucap, “Anak-anak, tolong yang tenang. Pak Irfan mau mengajar.” Tapi itu menyuruh. Hampir pula saya mengucapkan, “Jangan bermain terus! Waktu belajar kita terbatas.” Ini melarang. Bahkan hampir saja saya main fisik dengan memegangi salah satu tangan anak kemudian berkata dengan nada emosional, “Pak Irfan sudah peringatkan tiga kali, tapi kalian tidak merespon, hentikan permainannya. Saatnya belajar.” Ini memarahi.

Drama pertama masuk kelas ini berakhir ketika Bu Izzah menyampaikan dengan tenang, “Teman-teman perlu fokus. Pak Irfan sudah siap untuk belajar bersama teman-teman.” Tanpa perlu dikomando, seketika anak-anak langsung mendekat ke arahku. Ini luar biasa menakjubkan!

Sabtu, Desember 24, 2016

Tempat Asyik Menikmati Durian

Apa yang terbayang pertama kali ketika mendengar kata durian?
Tepat! Aroma wanginya!

Ada sensasi yang membahagiakan manakala melewati pedagang durian yang mangkal di pinggiran jalan. Menikmati wanginya adalah sebuah kesenangan tersendiri. Mencium aromanya saja sudah bikin bahagia, apalagi kalau langsung menikmati durian ya…

Bahkan durian itu ternyata menyimpan keunikan tersendiri. Ia mampu mengubah benci menjadi cinta. Lama tak jumpa menjadi rindu. Untuk ini sudah cukup banyak contoh, orang yang semula bencinya minta ampun dengan durian, setelah mencicipi durian justru malah jadi pecinta durian.


Dan saya salah satunya. Dulu, mencium aroma wanginya saja bikin kepala kliyengan. Namun ketika melihat bapak dengan lahapnya menyantap durian nyaris tanpa sisa membuat saya penasaran. Bahkan durian yang masih menempel di jari pun dilumatnya habis. Rasa penasaran saya semakin menjadi-jadi manakala satu buah durian bisa habis seorang diri. Seenak apa sih makan durian sampai sebegitunya? Akhirnya saya mencoba durian hanya seujung jari.

Dan ternyata wauw! Setelah mencoba mencicipi daging durian, saya langsung ketagihan ingin lagi, lagi, dan lagi! Sejak saat itu pula saya menjadi suka durian. Yang namanya cinta, pasti pernah pula dibuat kecewa. Iya, kecewa karena durian saat itu hanya bisa dinikmati ketika musim durian. Sudah begitu harganya yang relatif mahal membuat kantong jadi tidak bersahabat. Belum lagi saya seringkali kecewa ketika membeli buah durian, rasanya tak sekuat aroma wanginya. Parahnya sudah capek-capek mengupas, bahkan sampai kulit terluka terkena duri, ternyata duriannya tidak manis.

Saya bayangkan sepertinya enak ya kalau ada durian tinggal santap, tanpa harus mengupas, tanpa harus khawatir kulit terluka tertusuk duri. Sepertinya enak ya saya bisa menikmati durian seperti menikmati es krim. Sampai akhirnya saya menemukan satu tempat yang asyik untuk menikmati durian. Sebuah tempat yang benar-benar menjawab apa yang telah saya bayangkan. Tempat itu tidak lain adalah Kedai Durianlover.

Di sini saya bisa sepuasnya makan durian, dan tepat seperti yang saya bayangkan sebelumnya. Tinggal santap. Kedai Durianlover ini very recommended menjadi destinasi wisata kuliner bagi para pecinta durian. Di sini anda tak perlu repot-repot mengupas kulit durian, karena di Kedai Durianlover, menyediakan durian beku Medan siap santap dengan rasa yang sudah terjamin mantap. Kedai Durianlover juga menawarkan varian olahan durian seperti es cincau durian, es nyiur durian, dan pancake! Racikan menunya menawarkan rasa original. Nikmatnya durian bahkan sampai tak kenal musim.

Saat ini Kedai Durianlover menempati sebuah ruko di Jl. Srigunting 60. Anda penasaran, silahkan rasakan dan buktikan saja sendiri. Bisa buat ramai-ramai. Buka sampai jam sembilan malam.

KEDAI DURIANLOVER
Cara asyik menikmati durian.
Jl. Srigunting, 10 meter dari perempatan Jalan Sriti dan Jalan Merpati. Randugunting.
Buka mulai pukul 09.00 – 21.00 WIB
Menerima delivery order untuk area Tegal
Kontak Person : 081391873536

Jumat, Desember 09, 2016

Bukan Sekedar Trend, Bukan Pula Urusan Modis



Istri saya tercinta membelikan sepatu sandal baru untuk Echa. Usia si cantik hampir 2 tahun. Bentuk sandalnya menarik, modern, dan warnanya cerah, pokoknya kid minded! Dapat menarik siapa saja, tidak hanya anak tapi juga orang tua tak terkecuali ya istri saya itu. Dan dugaan saya benar, Like, sang kakak tertarik dengan sandal baru adiknya. Akhirnya Like meminta ijin untuk memakai sandal adik untuk dipakai ke sekolah. Tapi…  disinilah masalah itu terjadi.

Like tampak kerepotan saat hendak memakai sandal sepatu itu. Entah berapa lilitan yang melingkari pergelengan di area mata kaki sehingga butuh waktu banyak bagi si kakak untuk mengenakannya. Saat itu saya sudah siap-siap mengantar ke sekolah. Sudah siap tancap gas. Tinggal menunggu si kakak. Saya yang sudah menunggu cukup lama, akhirnya mulai bereaksi. “Ini sudah jam berapa? Kalau Like kerepotan bisa pakai sepatu yang biasa Like pakai.”

Model sandal itu ternyata terlalu merepotkan saat akan dipakai. Alih-alih tampil modis, kekinian, tapi justru mengabaikan hal prinsip yang bisa melatih kemandirian anak. Sandal itu ternyata tidak sesuai dengan tahap perkembangan kebutuhan anak. Bahkan dalam hati saya sempat berpikir yang tidak-tidak tentang anak saya. Tidak biasanya bisa selama ini hanya untuk urusan memakai sepatu. Hampir saja saya mengatakan kalau anak saya lambat, tidak sigap, kurang menguasai klasifikasi waktu, belum bisa menentukan prioritas, sungguh pikiran yang perlu dibuang jauh-jauh karena mengarah kita untuk tidak berpikir positif.

Karena keterdesakkan waktu yang sudah siang, akhirnya saya juga yang turun tangan membantu memakaikan sandal sepatu itu. Saat sampai di sekolah, ternyata Like merasa kesulitan juga untuk melepasnya. Saya pula yang bantu melepaskan. Akhirnya saya berkesimpulan bahwa sandal ini sangat tidak tepat buat anak. Karena tidak melatih kemandirian. Tidak efisien.

Kasus serupa juga pernah terjadi tapi dengan produk yang berbeda. Tas roda. Di sekolahnya, banyak teman-temannya mengenakan tas yang didesain seperti koper dengan roda di bagian bawah. Yang namanya anak-anak, mudah tergiur dengan apa yang dibawa teman seusianya. Karena tas yang sudah rusak juga resletingnya, uminya Like pun membelikan tas. Dan pilihan Like jatuh pada tas roda. Seperti punya teman-temannya. Apa yang salah dari model tas itu? Coba perhatikan baik-baik!

Roda dalam koper itu memang didesain untuk meringankan beban yang berat. Sementara fungsi tas itu digendong. Cara membawanya diseret. Coba kita kembalikan pada fakta atau fungsinya. Tas beroda itu untuk koper. Koper untuk membawa beban yang berat. Misal mau pergi ke luar negeri, naik pesawat, yang butuh bawa banyak barang, sangat dianjurkan pakai koper beroda. Lagian, apakah beban yang dibawa anak TK seberat itu, sehingga memerlukan roda? Tidak kan?

Dan saat naik motor pun Like merasa kerepotan mau diletakkan dimana tas roda itu. Akhirnya beberapa kali tas itu berada dipangkuannya, dan membuat tidak nyaman. Sampai akhirnya ia tidak mau pakai tas itu lagi. Dan lebih memilih tas gendong biasa yang lebih ringan dan mudah dicangkolkan di sepeda motor.

Satu lagi masalah baju. Kali ini memang murni kesalahan saya yang punya anggapan kalau baju bermerek itu bagus. Ternyata tidak demikian. Bajunya sih modis, branded, sayangnya tidak ramah anak. Bagaimana mau ramah, kancing baju usia anak 4 tahun letaknya di belakang. Orang dewasa saja pasti kerepotan jika model kancing atau resleting bajunya ada di belakang, apalagi anak-anak? Lebih menyedihkannya lagi ketika saya sendiri yang menyaksikan saat baju itu dibawa ke sekolah sebagai baju ganti. Selesai mandi, anak saya lama sekali memegangi baju itu, ternyata ia kebingungan cara memakai bajunya karena posisi kancing yang di belakang. Dari sini saya merasa bersalah!

Jangan memilih sesuatu untuk anak sesuai dengan persepsi kita. Tapi perlu dipandang juga dalam perspektif anak.  Baju atau sandal yang kita pilih itu ramah anak atau justru malah merepotkan anak atau bahkan merepotkan orang lain? Pertimbangannya tidak lagi sekedar urusan modis, lagi trend, tapi lebih kepada fungsinya. Lebih kepada  manfaat. Jauh dari itu adalah yang bisa membuat anak bisa berlatih mandiri sesuai tahap perkembangannya. 

Ketika anak kita tumbuh menjadi pribadi yang tidak mandiri anak juga kan yang repot nantinya. Ketika anak terbiasa dimudahkan, maka anak tidak akan memiliki daya juang. Ketika pada usia anak terbiasa dimudahkan segala urusannya maka kelak ketika anak besar tidak akan menjadi pribadi yang tangguh. Sedikit menemui kesulitan langsung mengeluh.
                                                                             

Mentalitas Menghadapi USBN