Minggu, Maret 12, 2017

Tepatkah Selesi Masuk SD untuk Anak Lulusan TK?

Foto by Araf Hakim
Ada beberapa sekolah dasar yang menerapkan sistem ‘seleksi’ saat menerima pendaftaran murid baru. Sekolah-sekolah ini biasanya mendapat label sekolah favorit, punya segudang prestasi, memiliki ciri khas yang diunggulkan. Sekolah model ini juga biasanya banyak dicari-cari para orang tua. Mahal tak jadi soal, asal sebanding dengan kualitas yang dihasilkan. 
 
Mekanisme penerimaan siswa baru sekolah ini biasanya menjaring calon peserta didik sebanyak mungkin dengan batas waktu ditutupnya masa pendaftaran. Karena sudah dikenal sebagai sekolah berkualitas, hampir dipastikan peminatnya membludak. Dan ketika pendaftar melebihi kuota kelas, bisa dipastikan ada ‘seleksi’ dalam penerimaan baru.

Sengaja istilah seleksi ini saya beri tanda petik. Karena istilah ini sebenarnya tidak diperbolehkan seperti yang tertuang dalam Peraturan Pemerintah No 17 tahun 2010. Namun pelaksanaannya masih saja ada sekolah-sekolah yang tutup mata atau kurang mengindahkan PP tersebut. Belakangan istilah ini mulai hilang, tapi muncul dengan istilah lain. ‘Seleksi’ ini biasanya diganti dengan observasi peserta didik baru, ada juga istilah penjaringan minat dan bakat anak, atau istilah lain yang jelas-jelas misinya sama, melakukan seleksi penjaringan untuk memenuhi jumlah siswa sesuai kuota.

Layaknya kompetisi kebanyakan, dalam proses seleksi pasti ada kriteria dan alat ukur tertentu untuk menentukan ‘pemenang’. Hasilnya pasti ada sejumlah pendaftar yang dinyatakan ‘gagal’. Sampai di sinilah, permasalahan itu mencuat ke permukaan dan menghadirkan pertanyaan-pertanyaan yang layak direnungkan.

Apakah sudah dipertimbangkan bagaimana perasaan orang tua ketika tiba masa pengumuman, anaknya dinyatakan ‘gagal’ bisa diterima di sekolah harapan?

Sudah terbayangkah bagaimana perasaan anak yang baru lulus TK menerima penolakan setelah sebelumnya berharap bisa belajar di sekolah unggulan?

Pertanyaan pun semakin mengerucut, tepatkah seleksi masuk sekolah dasar untuk anak yang baru lulus TK?

Peraturan Pemerintah Nomor 17 Tahun 2010 tentang Pengelolaan dan Penyelenggaraan Pendidikan, khususnya pada Pasal 69 dan Pasal 70 menegaskan tentang larangan seleksi untuk masuk usia Sekolah Dasar.

Coba perhatikan isi pasal 69 ayat (5) yang berbunyi, “Penerimaan peserta didik kelas 1 (satu) SD/MI atau bentuk lain yang sederajat tidak didasarkan pada hasil tes kemampuan membaca, menulis, dan berhitung, atau bentuk tes lain.”

Dari sini sudah sangat jelas, bahwa penerimaan siswa baru untuk kelas 1 SD/MI tidak melalui serangkaian tes seleksi dalam bentuk apapun. Lantas bagaimana jika sekolah sudah terlanjur menerima jumlah pendaftar yang melebihi kuota?

Dalam pasal 70 ayat 1-3 dalam PP Nomor 17 Tahun 2010 menjelaskan jika jumlah calon peserta didik melebihi daya tampung satuan pendidikan, maka pemilihan peserta didik berdasarkan pada usia calon peserta didik dengan prioritas dari yang paling tua. Jika usia calon peserta didik sama, maka penentuan peserta didik didasarkan pada jarak tempat tinggal calon peserta didik yang paling dekat. Jika usia dan atau jarak tempat tinggal calon peserta didik sama, maka peserta didik yang mendaftar lebih awal diprioritaskan.

Dari penjelasan di atas kita pun sudah bisa menyimpulkan, bahwa seleksi dalam bentuk apapun untuk memasuki jenjang usia sekolah dasar tidaklah tepat.

Pengalaman saya menjadi pendidik, hampir setiap tahun, sering menyaksikan bagaimana seorang ibu dengan mata berkaca mengadu sekaligus kepada pihak sekolah agar anaknya bisa diterima, tidak jarang orangtua yang belum menerima kenyataan mempertanyakan validitas seleksi penerimaan siswa baru, karena hasil seleksi yang sifatnya tertutup. Bahkan sampai ada yang memanfaatkan kewenangan, jabatan, kedekatan relasi, atau ‘orang dalam’ untuk bisa meloloskan anaknya diterima di sekolah yang diinginkan.

Jadi, mulai sekarang tak perlu berbangga kalau sekolahnya sampai menolak murid, karena bisa jadi mereka yang tidak diterima memendam rasa kecewa. Lagipula, masih ada beberapa sekolah yang masih harus berjuang keras untuk mencari murid.

Menaklukkan Murid Hanya dalam Satu Menit



Sejak buku Hanya Satu Menit; anda bisa menaklukkan hati murid terbit, agenda Ali Irfan semakin padat. Akhir-akhir ini sering menerima undangan pelatihan dan bedah buku membagikan pengalamannya kepada kalangan guru. Belum lama ini, ia diundang untuk mengisi pelatihan di Tasikmalaya dan Bandung, Jawa Barat, pada pada 4-5 Maret 2017. Bahkan akhir Maret ini ia diundang untuk memotivasi guru-guru Daarul Qur’an School, sekolah asuhannya Ust. Yusuf Mansur.

“Ini buku kedua saya yang  mengisahkan pengalaman menjadi guru. Buku pertama saya berjudul B’right Teacher,” kata Ali Irfan saat ditemui Radar Tegal (8/3) di ruang kerjanya di SEMAI,  Buana Kids Building Lt2.

Irfan menyampaikan gagasan buku ini muncul karena masih banyak guru yang belum benar-benar memperhatikan menit-menit pertama ketika mengajar di kelas. Seolah semua berjalan otomatis. Tidak hanya itu, banyak guru juga kebingungan ketika pada menit-menit berikutnya mendapati murid-muridnya sudah tidak terkendali, sudah terlihat bosan, dan lelah belajar. “Guru yang kehabisan strategi mengondisikan kelas bisa dipastikan akan membuat kelas menjadi semakin membosankan,” ujarnya.

Selain mengubah mindset bagaimana menjadi guru kanan (kreatif, aktif, dan menyenangkan), buku setebal 204 halaman tersebut juga memuat 99 simulasi permainan paling mengesankan yang bisa dipakai pada menit-menit pertama pembelajaran, menit-menit pertengahan, maupun pada menit-menit terakhir. “Semua games tersebut sudah saya praktekkan dan terbukti powerfull mengembalikan otak anak ke dalam gelombang alfa, satu zona ketika anak siap kembali belajar,” ungkapnya.

Irfan menambahkan ada hal penting yang perlu dimiliki seorang guru sebelum benar-benar ingin menaklukkan hati murid. “Materi, strategi itu memang penting, tapi ada yang jauh lebih penting, yakni semangat guru dalam mendidik, yang menjadikan profesinya sebagai passion,” kata Irfan.
Saat ini, ayah dari Like Almaida Xaviera (4.5) dan Aliesha Laksmi Azkadina (2) sehari-harinya mengelola SEMAI sebagai Training Manager “SEMAI sendiri merupakan sebuah lembaga pelatihan yang bergerak di bidang parenting,” ujarnya.

Selain di SEMAI ia juga turut menjadi promotor PAUD Buana Kids dan SD Al Biruni, sekolah jenjang usia dini dan sekolah dasar yang menerapkan metode sentra dengan jumlah siswa maksimal 12. Dua lembaga pendidikan ini berada dalam naungan Yayasan Buana Kita yang beralamat di Jl. Raya Pacul No 59-61 di Kecamatan Talang – Kabupaten Tegal. “Melalui pendidikan dan pelatihan yang SEMAI selenggarakan, tujuan kami tidak lain menanamkan 18 sikap untuk menjadi pribadi berkarakter,” ujar pria kelahiran Tegal, 20 Februari 1985 ini.

Bersama tim SEMAI, kini Ali Irfan, tengah menyiapkan buku parenting. “Mohon doanya saja, tahun 2017 ini kami akan menerbitkan buku bertema parenting yang menitikberatkan pada penanaman 18 sikap melalui penggunaan bahasa,” ungkapnya.

Dimuat di Radar, Senin, 13 Maret 2017

Kamis, Maret 09, 2017

Sepertinya… kenapa?

Dok. Outbound Buana Edufest! (26/2)
Ini gila! Begitulah ekspresi saya ketika mendengar satu dua kalimat yang terujar dari anak-anak Buana Kids dan SD Al Biruni. Saya nyaris gagal paham, bagaimana bisa bahasa seperti itu terucap dari lisan seorang bocah?

Jawabannya ternyata dari penggunaan bahasa. Metode ini mendidik anak mengungkapkan perasaannya dengan bahasa yang baik. Bahasa Indonesia baku dan berpola. Sebagai contoh, ketika anak merasa penasaran dengan sesuatu, maka ia akan melontarkan pertanyaan dengan kata tanya 

“Kenapa?”

Kenapa ibu menangis?

Kenapa Ayah shalat di Masjid?

Kenapa anak laki-laki tidak pakai jilbab?”

Penggunaan kata kenapa itu secara alami muncul pada anak usia 3-4 tahun. Satu tingkat di bawah itu, anak-anak biasanya mengenal kata tanya “apa.” Apa ini, apa itu, ini apa?

Pertanyaan-pertanyaan tersebut pastinya membutuhkan jawaban, dan ketika jawaban belum memuaskan, maka akan berlanjut ke pertanyaan lanjutan. Jadi, satu-satunya cara adalah memberikan jawaban yang dapat memuaskan rasa penasarannya, bukan mematikan bagian kritis anak.
Pada level yang sama, penggunaan berbahasa yang baik juga sangat erat kaitannya dengan pendidikan akhlak. Tentang adab. Tentang etika. Ini seperti pada kalimat, bolehkah?

Ayah, bolehkah Like pinjam bukunya ayah?

Bolehkah Like pinjam laptopnya ayah?

Apakah Like boleh pinja mainannya Echa?

Terdengar santun, bukan?

Selama ini kita sering abai dengan cara berbahasa kita yang cenderung tidak berpola. Mendidik anak menjadi beradab, ternyata bisa dimulai dari cara berbahasa kita sebagai orang tua dan pendidik. Nyaman terdengar ketika akhlak anak sudah terbentuk. Ketika bersalah, meminta maaf, ketika dimintai maaf harus memaafkan.

Lewat bahasa berpola ini pula kita bisa mengingatkan anak ketika melakukan hal-hal yang tidak semestinya. Ada sebuah batasan yang mesti kita pahamkan kepada anak, lalu dikuatkan dengan memberinya pijakan. Jika keluar dari batasan sekaligus pijakan, maka saat mengingatkan pun tidak to the point, tapi tetap dengan menggunakan bahasa yang tidak membuat perasaan anak tersakiti.
Satu contoh, ketika ada anak bermain di kantor guru, maka kita bisa mengingatkannya dengan cara begini, “Teman-teman, tempat bermain ada di ruang sebelah.”

Saat ada anak yang berdiri di atas kursi, kita bisa mengucapkan, “Sepertinya ada yang tidak menggunakan kursi sesuai fungsinya.”

Ketika anak tiba-tiba datang kemudian memotong pembicaraan orang tua dengan tamu misalnya, maka kita bisa menggunakan, “Zafira, ibu sedang bicara dengan tamu. Kalau Zafira ada perlu, nanti bisa setelah urusan ibu selesai ya,”

Ketika ingin mengingatkan anak yang makan sambil berdiri, maka kita bisa mengingatkannya dengan cara, “Sepertinya ada yang makan sambil berdiri.”


Selasa, Maret 07, 2017

Integritas


Kisah ini saya dapatkan dari mentor saya. Mungkin bagi anda yang pernah mendengar kisah ini, apa yang saya tuliskan tidaklah utuh. Tapi saya mencoba merangkainya secara garis besar.  Begini ceritanya,

Dalam sebuah jamuan makan malam. Beberapa orang melakukan sebuah perbincangan ringan dengan Jack Ma, raja property China. Dalam percakapan itu muncul sebuah pertanyaan, apakah ada property yang akan dijual?

“Saya ada satu hotel yang mau dijual. Jika anda mau, hotel itu akan saya lepas dengan harga 900ribu dolar,” begitu kata Jack Ma.

Hotel itu memang cukup dikenal. Calon pembeli paham benar gambaran detail hotel. Tanpa pikir panjang, ia menyanggupi untuk membeli hotel tersebut dengan harga Sembilan ratus ribu dolar.

“Oke. Saya beli hotel itu.” Ini beli hotel kayak beli kacang goreng ya, tidak pakai menawar. Hehehe...

“Deal?” tanya Jack Ma meyakinkan.

“Deal!”

Proses deal-dealan yang sedemikian cepat hanya bisa dilakukan oleh orang-orang yang memilki integritas tinggi. Setiap kata-kata yang terujar diperhitungkan. Namun, sedikit masalah terjadi kemudian hari. Hotel itu ternyata bukan milik seorang Jack Ma, sendirian. Ada pemegang saham lain, yang ternyata juga menawarkan ke relasinya. Baik Jack Ma maupun rekan pemegang saham itu saling tahu sama lain kalau hotel itu mau dijual.

Saat mau melakukan transaksi, sang pembeli bertemu dengan rekan Jack Ma, sang pemegang sebagian saham, menyampaikan kesiapannya untuk melakukan transaksi senilai 900ribu dolar. Begitu dia menyampaikan itu, dia agak terhentak, karena dia  juga baru saja mendapatkan calon pembeli yang siap membayar hotel dengan harga 1,2 M dolar.

“Saya belum bisa  putuskan, sebab ada calon pembeli yang siap dengan harga lebih tinggi dari anda.”

“Saya sudah deal dengan Jack Ma, sebaiknya silahkan bicarakan dengannya,”

Akhirnya, terjadilah pertemuan antara dua pemegang saham, ia menyampaikan kepada Jack Ma, bahwa ada calon pembeli yang siap membeli hotel dengan harga tinggi. “Jadi, bagaimana sebaiknya?”

Tahukah anda bagaimana jawaban Jack Ma?

“Saya sudah deal sama pembeli yang pertama dengan harga 900ribu dolar, tapi jika anda masih mengharapkan hotel itu dilepas dengan harga 1,2 M dollar, maka saya siap membayar kekurangannya, yang 300 juta dollar.”

***

Bayangkan, jika Jack Ma menerima tawaran harga yang lebih tinggi, pasti akan mengecewakan calon pembeli yanag pertama. Tapi, dia menjaga setiap kata-katanya. Dia jaga perasaan, agar orang lain tidak tersakiti. Inilah integritas. Luar biasanya ia menjaga perasaan teman, bahkan siap berkorban, dengan menyatakan siap membayar kekurangannya yang 300ribu dolar jika temannya masih mempertahankan harga 1,2 M dollar.

Tapi tahukah jawaban temannya itu?

“Saya menjaga pertemenan dengan anda. Saya percaya dengan integritas anda. Biarkan saya gagalkan calon pembeli yang 1,2 M dollar.” Belakangan saya baru menemukan, kalau kisah ini diambil dari sebuah buku biografinya Mochtar Riyadi. Cukup ambil saja pelajaran berharga dari kisah ini ya...

Selasa, Februari 28, 2017

Pattern Parenting

Kenapa anak tidak bergerak ketika diperintah? Cenderung berontak ketika dimarahi? Bahkan semakin menjadi-jadi ketika dilarang? Padahal tanpa harus menyuruh, tanpa harus memarahi, apalagi melarang, sebenarnya anak-anak bisa bergerak dengan penuh kesadaran. Iya, dengan penuh kesadaran, tanpa kita harus teriak-teriak.

Mungkin dalam hati anda bergumam, “Lah, itu kan bahasa sehari-hari saya, kalau tidak digunakan, saya mau bicara apa?” Sederhana sebenarya. Jika sudah tahu bahasa melarang, memarahi, menyuruh itu sudah tidak efektif dalam menanamkan karakter anak terutama untuk usia dini, masa iya akan terus dipertahankan? Saya yakin tidak.

Untuk mengubahnya anda bisa mulai dengan cara memperbaiki pola berbahasa. Pelajari polanya, rasakan manfaat positifnya. PATTERN PARENTING bisa menjadi media yang tepat untuk anda yang ingin mulai mengubah cara berbahasa. Melalui pelatihan 7 jam ini anda akan mendapatkan strategi berbahasa tanpa 3M (melarang, memarahi, menyuruh) dalam upaya menanamkan 18 sikap. Ya, langkah awalnya adalah dengan memperbaiki cara berbahasa, karena bahasa adalah alat komunikasi untuk menyelesaikan masalah.


Rabu, Februari 01, 2017

Bagaimana Menangani Kakak yang Suka Jahil kepada Adiknya?



 Assalamu’alaikum... anak saya yang besar umur 4 tahun suka ‘jahilin’ adiknya (umur 2 tahun) sampai nangis seringnya, saya sudah mengingatkan dengan bahasa yang lembut tapi kok belum ada perubahan. Mohon bantuan solusinya ibu... Description: https://static.xx.fbcdn.net/images/emoji.php/v7/f4c/1/16/1f642.png:-) Terimakasih...
Atmi Hapsari, Tanjung - Brebes

Wa’alaikumsalam wr.wb, Bu Atmi...
Untuk kasus ini, kita tidak bisa serta merta hanya melihat dari sisi penggunaan bahasa saja. Kasus kakak-adik perlu kita cermati lebih dalam, apalagi dengan jarak usia yang berdekatan. Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan :
1. ‘iseng’ atau ‘jail’ bisa muncul dari rasa cemburu sang kakak atau sebaliknya.
2. Bagaimana cara ibu memberi perhatian untuk kakak dan adik. Ketika ibu bereaksi hanya ketika melihat sang kakak ‘usil’ atau ‘melakukan sesuatu terhadap adik’ maka, yang tertanam dalam diri sang kakak adalah : ibuku akan memberiku perhatian ketika aku ‘iseng’ kepada adik.
3. Ketika sang kakak sedang berbuat sesuatu yang ‘manis’, apakah ibu memberikan perhatian maupun mengapresiasinya? Apresiasi yang proporsional perlu dilakukan sebagai wujud rasa sayang orangtua terhadap anak.
4. Jika kakak masih tetap ‘usil’, coba kita telusuri masa lalu sang kakak. Apakah di setiap tahap usianya sudah kita penuhi kebutuhan perkembangannya? Karena, bisa jadi penyebab anak menjadi ‘usil’ sebenarnya bukan seperti yang kita maknai selama ini. Tetapi, lebih kepada adanya kebutuhan yang ‘belum terisi’ di usia sebelum 4 tahun. sudahkah terpenuhi kebutuhan sensorimotor kakak pada 2 tahun pertama usianya? Jika belum, maka, tindakan-tindakannya yang kita anggap sebagai tindakan ‘usil’ tadi jika dilihat dari sudut pandang sang kakak, ia hanya sedang dalam rangka memenuhi kebutuhannya yang ‘belum terisi’.
Dari sinilah kita bisa mengerti bagaimana pentingnya mendampingi tumbuh kembang buah hati sesuai dengan tahap usianya.
Sebagai contoh, anak usia 2 tahun yang suka melempar-lempar makanan. Tindakan kita biasanya langsung mengarahkan agar tidak melempar. Padahal, kebutuhan anak usia 2 tahun memang sedang membutuhkan pemenuhan kebutuhan sensorimotor, menggerakkan seluruh anggota badan terutama tangan dan kaki, kegiatannya bisa berupa memukul, melempar, menendang, mencubit, dll. Dampingi dan fasilitasi dengan alat main yang mendukung pemenuhan kebutuhannya.
Selanjutnya, kita amati dari pemakaian bahasa. Pemakaian bahasa dalam kasus ini selain menerapkan tanpa 3M, baik dan benar serta berpola, juga harus memperhatikan Kontinum Berbahasa (Pelatihannya insya Allah akan dilaksanakan pada 9 Februari 2017).
Kita juga bisa menggunakan kesepakatan di awal dengan kakak dan adik. Kesepakatan harus melibatkan anak-anak dan harus sampai benar-benar ‘deal’. Misalnya, sepakat bahwa sang kakak menggunakan sepeda berwarna biru dan sang adik menggunakan sepeda berwarna merah atau tawarkan kesepakatan apakah perlu saling bertukar sepeda pada saat-saat / kesempatan tertentu?
Dan yang tidak kalah penting adalah pijakan sebelum main. Jadi terkadang dalam sebuah kasus tidak serta merta dengan menggunakan bahasa bisa langsung menjawab segala persoalan. Hal yang juga perlu untuk diperhatikan adalah kedisiplinan kita, dan lingkungan sekitar dalam menggunakan rambu-rambu berbahasa seperti yang sudah didapatkan Bu Atmi dari pelatihan yang pertama. Demikian Bu Atmi Hapsari... Semoga bermanfaat. Wallahu a’lam bissawab.

Senin, Januari 30, 2017

Dimanapun, aku mengingat-Mu

Toilet PAUD Buana Kids - Foto : Sulis
Pagi hari ini, sekali lagi saya dibuat takjub melihat ciptaan-Nya... Subhanallah... Allahu akbar...

Saat jam yang menempel mesra di dinding ruang guru menunjukkan pukul 09.32 WIB, saya menuju ke toilet. Dari kejauhan, samar-samar saya melihat Like dan Galuh, dua gadis kecil sedang berdiri berbaris di depan toilet. Mereka tidak mengetahui bahwa ada sepasang mata minus yang sedang berusaha fokus melihat ke arah mereka. Mereka berdua kini mulai asyik melantunkan do'a sebelum masuk toilet dengan begitu cerianya...

Setelah mereka selesai berdo'a saya pun mendekat, membuat mereka menyadari kehadiran saya. Mereka tersenyum ramah. Saya pun membalas senyum mereka semanis yang saya mampu.

Setelah saling membalas senyum, kami pun menuntaskan keperluan masing-masing dalam toilet.

Saya keluar dari toilet hampir bersamaan dengan mereka berdua yang keluar dari barisan toilet di samping kanan.

Saat itu, mereka kembali melihat ke arah saya dan kembali pula memberikan senyuman yang sama manisnya dengan senyuman pertama. Ah, melihat senyuman mereka saat itu saya tidak tahan untuk menyapa mereka, "Sudah selesai keperluan di toiletnya?".
 
"Sudah." Jawab mereka.
 
"Kalau sudah, lalu apa lagi yang akan dilakukan?"
 
Saya kira mereka akan jawab, "Kembali ke kelas, Bu." Ternyata saya salah. Mereka menjawab pertanyaan saya dengan melantunkan Do'a sesudah keluar toilet. 
Aih! Saya malu sendiri...

Saya kaget. Benar-benar kaget. Saya kira, saat mau masuk toilet, di dekat mereka ada guru yang sedang membimbing ataupun mengingatkan mereka untuk berdo'a sebelum masuk toilet. Ternyata tidak ada guru sama sekali. Mereka berdo'a atas inisiatif sendiri. Dan setelah keluar toilet pun tidak ada yang menyuruh mereka berdo'a. Tapi mereka melakukannya. Subhanallah...

Saya jadi teringat, pernah ada anak yang berkata : Bu, untuk apa kita berdo'a sebelum masuk kamar mandi?
 
Nak, berdo'a itu adalah ibadah. Kita memohon dan menyampaikan harapan kita kepada Yang Maha Melindungi. Kita adalah manusia, makhluk yang lemah. Hal-hal apa saja bisa menimpa kita kapanpun dan dimanapun. Jadi, untuk mamulai amal perbuatan yang akan kita lakukan, kita perlu memohon perlindungan kepada Allah, Tuhan semesta alam.

Alangkah beruntungnya bapak-ibu mereka. Semoga anak-anak kita semua menjadi anak-anak soleh- soleha yang dapat menjadi berkah bagi segala makhluk di bumi, alam semesta... aamiin...
*) Kisah ini ditulis oleh Sulistyaningsih
SEMAI
Menumbuhkan Potensi, Menyebar Inspirasi 

Mentalitas Menghadapi USBN